Esai Ada Apa Dengan Cinta 2
Sangat emosional,
ambisius, dan pandai menggombal itulah karakter Rangga dalam film AADC 2
(2016). Karakter ini
sangatlah bertolak belakang dengan Rangga yang pendiam, menyebalkan
karena sikap cuek yang berlebihan, cool,
senang membaca puisi, menulis puisi
dalam
film AADC (2002). Film AADC
2 ini disutradarai oleh Riri Riza. Film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) ini dirilis
pada 28 April 2016. Sosok
Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra yang tak menampilkan kepribadian yang
sama. Film ini berhasil meraih 3,6 juta penonton dan menjadi film
Indonesia terlaris kedua tahun 2016. Selain itu kesuksesan ini juga melampaui
pencapaian film pertamanya.
Rangga punya cerita
tersendiri. Ia memaparkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Cinta,
bagaimana hubungan Rangga dengan ibunya yang sudah terpisah selama 25
tahun, hingga apa pekerjaan Rangga selama hidup di New York. Semuanya
terjawab dalam film ini. Tetapi, tentu saja Rangga di AADC 2 sudah
jauh berbeda dari Rangga di AADC. Seiring perjalanan waktu yang memisahkan
kedua film ini (14 tahun), karakter Rangga juga berkembang. Rangga bukan
lagi anak SMA pendiam yang tidak punya teman. Ia punya teman di
New York dan membangun bisnis bersama. Caranya berkomunikasi dengan
orang lain juga terpengaruh oleh
kehidupan Brooklyn yang padat penduduk. Rangga
tidak sekaku sewaktu SMA.
Di awal cerita,
karakter Rangga terasa normal dan natural. Believeable,
istilahnya. Namun, semakin ke tengah jalan cerita, pergeseran karakter Rangga
yang puitis dan melankolis semakin terlihat. Batas antara karakter Rangga
dengan Nicholas Saputra pun, ikut bias. Misalnya, saat Rangga menemui Cinta di
pameran Eko Nugroho. Rangga menyapa Cinta dari belakang dengan dialog yang
seperti orang membacakan puisi. Tidak lazim memang, tapi mungkin karena mereka
Rangga dan Cinta, yang bukan pasangan biasa. Buat yang tahu bagaimana melankolisnya
kisah cinta mereka, pertemuan ini mungkin penuh makna. Lalu saat Cinta
'menjebak' Rangga ke Klinik Kopi agar Rangga menikmati kopi legendaris di sana.
Salah satu cameo dalam film ini, Pepeng, mengajak Rangga berbincang soal kopi.
Jika maksud sutradara adalah membuat penonton tertawa, adegan di Klinik Kopi
ini memang berhasil membuat penonton tertawa.
Bagaimana Rangga yang
memiliki kedai kopi di New York saat seorang pemilik kedai kopi menjelaskan
begitu rinci soal kopi legendaris yang dimilikinya.
Lalu adegan Rangga
mengajak Cinta ke Punthuk
Setumbu,
di mana terdapat dialog yang mengangkat argumen soal perbedaan liburan dengan traveling. Tetapi penggemar film ini
pasti tahu jika Rangga tidak pernah traveling.
Tidak ada adegan di AADC maupun AADC 2 yang memberi indikasi Rangga suka traveling (meski mungkin ada di
backstory skenario). Tetapi, tentu saja siapa pun tahu kalau Nicholas Saputra
adalah penggemar traveling nomor wahid.
Perubahan karakter Rangga membuat saya
tidak begitu suka. Beruntungnya, kekecewaan itu justru membuat saya lebih fokus
pada sajak-sajak yang bertebaran di film tersebut. Pilihan kata yang lembut,
tapi tegas. Jika dalam film AADC pertama terdapat puisi
Rako Prijanto yang melekat, bahkan mungkin sampai hari ini:
Kulari ke hutan,
kemudian menyanyiku
Kulari ke pantai,
kemudian teriakku
Sepi…sepi dan sendiri
aku benci
Pecahkan saja
gelasnya/Biar ramai
Biar mengaduh sampai
gaduh.
Kharisma
Chairil Anwar yang terlanjur menempel pada tokoh Rangga, menguatkan bahwa
melalui puisi, laki-laki akan terlihat lebih waw (romantis).
Puisi Batas yang
terangkum dalam buku puisi “Tidak Ada New York Hari Ini” karya Aan Mansyur,
menjadi obat kekecewaan saya terhadap berubahnya karakter Rangga. Ketika puisi
itu dibacakan oleh Rangga, luluh hati dan emosi saya. Begitu lembut, begitu
mengalir tenang.
Seorang ayah membelah
anak dari ibunya dan sebaliknya
Atau senyummu dinding
di antara aku dan ketidakwarasan
Persis segelas kopi
tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur
Apa kabar hari
ini?
Betapa puisi tersebut
mampu menentramkan emosi. Ketika puisi tersebut dibacakan, hilang segala
pertanyaan yang berkecamuk di otak. Saya fokus menikmati kata-kata yang
mengalir itu. Deras, tapi tidak menghanyutkan. Aan Mansyur yang katanya
berbulan-bulan mengumpulkan puisi untuk dirangkum dalam buku Tidak Ada New York Hari Ini,
berhasil membuat para penonton jatuh hati.
Meski karakter Rangga
berubah. Meski ada bagian-bagian adegan yang terkesan buru-buru diselesaikan.
Berkat puisi-puisi manis yang tersaji dalam film Ada Apa dengan Cinta?
2 ini, membuat para penonton tidak buru-buru untuk berhenti menikmati
ceritanya sampai akhir.
Dari sini tentu kita dapat mengetahui kepribadian seseorang
bisa saja berubah seiring berlajannya waktu, perubahan lingkungan, dan pergaulan seperti yang terjadi pada
Rangga. Di sisi lain kita dapat menarik semacam reflektif terhadap dunia
sastra kita. Khususnya puisi, telah sedemikian terpisah dari kehidupan
remaja, buku-buku sastra kurang menarik bagi remaja kita, dan
akibatnya buku-buku sastra cuma jadi pengisi rak-rak buku tukang loak. Jika
sastra jadi semacam pengisi museum bahasa nasional, mungkin mata kita bisa terbuka,
bahwa pasar sastra nasional memang sangat memprihatinkan. Seni yang
penuh semangat telah kandas.
Komentar
Posting Komentar